Sabtu, 30 Juni 2012

ASKEP Blefaritis


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar belakang
Disaat ini banyak sekali masyarakat yang tidak peduli akan kesehatn dirinya. Sehingga memunculkan masalah-masalah kesehatan terutama gangguan pada indra penglihatan, salah satunya adalah bagian kelopak mata. Biasanya masyarakat menganggap remeh penyakit ini karena mereka beranggapan bahwa penyakit ini akan segera hilang. Padahal bila tidak ditangani dengan serius, maka akan muncul berbagai komplikasi dari penyakit ini seperti blefaritis salah satunya.
Blefaritis adalah radang  pada kelopak mata. Radang yang sering mengenai bagian kelopak mata dan tepi kelopak mata. Pada beberapa kasus disertai tukak atau tidak pada tepi kelopak mata. bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit.
Biasanya orang sering menganggap kelelahan pada mata, atau mata yang berpasir, dan terasa silau dan tidak nyaman bila terkena sinar matahari atau pada saat berada pada lingkungan yang berasap, memberikan gambaran berupa mata merah, dan seperti ada benda asing di dalam mata. Selain itu, blefaritis juga dapat mengganggu pencitraan diri pasien.
Pada 5% dari total jumlah penyakit mata yang dilaporkan pada rumah sakit (sekitar 2-5% berasal dari konsultan yang punya kaitan dengan penyakit mata). Insiden blefaritis menurut WHO : blefaritis staphylococus sering terjadi pada wanita pada usia rata-rata 42 tahun dan biasanya disertai dengan mata kering pada 50% kasus. Blefaritis seboreik umumnya terjadi pada pria dan wanita pada rata-rata usia 50 tahun dan disertai mata kering pada 33% kasus, sedangkan pada blefaritis meibom juga umum terjadi pada dan wanitabpada usia rata-rata 50 tahun dan disertai syndrom mata kering sekitar 20-40%.
Berdasarkan angka kesakitaan tersebut  maka pemakalah tertarik membahas Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Blefaritis.


B.       Tujuan Umum
Untuk memperoleh gambaran tentang pelaksanaan ASKEP pada klien dengan Blefaritis dengan menggunakan metode proses keperawatan.

A.      Tujuan Khusus
1.      Mendapatkan gambaran tentang konsep penyakit Blefaritis
2.      Mampu membuat pengkajian keperawatan pada klien dengan Blefaritis
3.      Mampu membuat diagnosa keperawatan berdasarkan anamnesa
4.      Mampu membuat rencana keperawatan berdasakan teori keperawatan















BAB II
ISI
A.      Konsep Dasar  Penyakit
1.         Anatomi Dan Fisiologi Palpebra (kelopak mata)
Palpebra atau kelopak mata adalah alat penutup mata yang berguna untuk melindungi bola mata dari trauma, mencegah pengeringan bola mata karena adanya kelenjar-kelenjar palpebra, perdarahan dari arteri lakrimalis dan oftlmika melalui cabang palpebra, mengalirkan vena ke vena oftalmika.
Palpebra terdiri dari :
a.       Lapisan kulit
Kulit lebih tipis, longgar, dan elastis, sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.
b.      Lapisan otot
1)      M. Orbikularis okuli
Berjalan melingkar dalam kelopak mata atas dan bawah, berfungsi menutup bola mata, dipersyarafi oleh nervus VII (N.Facialis)
2)      M. Levator Palpebra
Berorigo pada annulus zenii diforamen orbita adan berinsersi pada tarsun atas, otot ini dipersyarafi oleh nervus III (N. Okulamotorius), berfungsi mengangkat kelopak mata atau membuka mata
c.       Lapisan tarsun
Jaringan ikat dengan kelenjar didalamnya, yaitu kelenjar meibom yang berfungsi mengahasilkan lapisan minyak dimana lapisan minyak ini adalah untuk melicinkan permukaan mata dan mengurangi penguapan air mata.
d.      Lapisan membran mukosa atau konjungtiva
Konjungtiva palpebra melekat erat pada tarsun
e.       Margo palpebra
Margo palpebra atau tepi kelopak mata, panjang tepian bebas adalah 25-30 mm dan lebar 2 mm.
1)      Tepian anterior terdapat : bulu mata atau silia, glandula zeiss (kelenjar sebasea kecil yang bermuara pada folikel rambut pada dasar bulu mata), glandula molle (modifikasi kelenjar keringat yang bermuara pada kulit didekat bulu mata).
2)      Tepian posterior
Berkontak dengan bulu mata, sepanjang tepian ini terdapat muara dari kelenjar meibom atau sebasea.

         Gambar  1. Anatomi palpebra
2.         Defenisi
Blefaritis adalah suatu peradangan pada kelopak mata karena terjadinya produksi minyak yang berlebihan yang berasal dari kelenjar minyak tersebut. Tidak diketahui persis mengapa produksi minyak bisa menjadi berlebihan. Sayangnya kelebihan minyak ini ada didekat kelopak mata  yang juga sering didatangi bakteri (Dedeh Kurniasih, 2008).
Blefaritis adalah inflamasi pada pinggir kelopak mata biasanya disebabkan oleh staphilococus.
Blefaritis adalah radang pada kelopak mata, sering mengenai kelopak mata dan tepi kelopak mata. Pada beberapa kasus disertai dengan tukak/ulkus atau tidak pada tepi kelopak mata, biasanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut.
Blefaritis adalah peradangan bilateral sub akut/menahun pada tepi kelopak mata (margo palpebra). Kondisi ini dapat terjadi dibagian depan kelopak (blefaritis anterior), terutama disekitar folikel bulu mata, atau bagian dalam (blefaritis posterior), misalnya pada kelenjar meibom.

3.         Etiologi
Secara umum penyebab blefaritis :
a.       Infeksi atau alergi yang biasanya berjalan kronik. Alergi dapat disebabkan oleh Debu, asap, bahan kimia iritatif, atau bahan kosmetik
b.      Akibat kelainan kelenjar meibom.
c.       Infeksi bakteri seperti : staphylokokus, streptococus alpha/beta hemolyticus, pnemokok, pseudomonas, demodex folliculorum, hingga pityrosporum ovale.
d.      Infeksi oleh virus disebabkan herpes zoster, herpes simplex, vaksinia[1] dan sebagainya.
e.       Infeksi jamur pitirusporum ovale dapat menyebabkan superfisial[2] (sistemik).


4.      Klasifikasi
a.       Blefaritis superficial
Infeksi yang mengenai kelopak mata superfisial disebabkan oleh staphylococcus maka pengobatan yang terbaik adalah dengan salep antibiotik seperti sulfasetamid dan sulfisolksazol. Sebelum pemberian antibiotik krusta[3] diangkat dengan kapas basah 
Gambar 2. Blefaritis superfisial

b.      Blefaritis seboroik
Blefaritis seboreik biasanya terjadi pada laki-laki usia lanjut (50 Tahun), dengan keluhan mata kotor, panas dan rasa kelilipan. Gejalanya adalah adanya pengeluaran sekret dari kelenjar meibom, hiperemia dan hipertropi papil pada konjungtiva. Pada kelopak dapat terbentuk kalazion, hordeolum, madarosis[4], dan jaringan keropeng.
Blefaritis seboroik merupakan peradangan menahun yang sukar penanganannya. Pengobatannya adalah dengan memperbaiki kebersihan dan membersihkan kelopak dari kotoran. Dilakukan pembersihan dengan kapas lidi hangat. Kompres hangat selama 5-10 menit. Kelenjar Meibom ditekan dan dibersihkan dengan shampoo bayi. Penyulit yang dapat timbul berupa, keratitis marginal, ulkus[5] kornea, vaskularisasi[6], hordeolum[7] dan madarosis.   
               Gambar 3. Blefaritis seboroik
          

c.       Blefaritis skuamosa
Blefaritis skuamosa merupakan peradangan tepi kelopak terutama yang mengenai kulit didaerah akar bulu mata yang disertai adanya skuama dan krusta dan sering terdapat pada orang yang berambut minyak. Blefaritis ini berjalan bersama dermatitik seboroik.
Penyebab blefaritis skuamosa biasanya adalah jamur. Pasien dengan blepharitis skuamosa akan terasa panas dan gatal, terdapat sisik halus-halus dan kemerahan pada  margo palpebra disertai madarosis.
Pengobatan  blefaritis skuamosa ialah dengan membersihkan tepi kelopak dengan shampoo bayi, salep mata, dan steroid setempat disertai dengan memperbaiki metabolisme pasien. Penyulit yang dapat terjadi pada blefaritis skuamosa adalah keratitis[8],konjungtivitis.
                              Gambar  4. Blefaritis skuamosa
d.      Blefaritis ulseratif
Merupakan peradangan tepi kelopak atau blefaritis dengan ulkus akibat infeksi staphylococcus.
Pada blefaritis ulseratif terdapat keropeng berwarna kekunung-kuningan yang bila diangkat akan terlihat ulkus yang kecil dan mengeluarkan darah di sekitar bulu mata, penyakit bersifat sangat infeksius, merusak folikel rambut sehingga mengakibatkan rontok (madarosis).
Pengobatan dengan antibiotik dan higiene yang baik. Pengobatan pada blepharitis ulseratif dapat dengan sulfasetamid, gentamisin atau basitrasin. Biasanya disebabkan stafilokok maka diberi obat staphylococcus. Apabila ulseratif luas pengobatan harus ditambah antibiotik sistemik dan diberi roboransia.
Bila ulkus kelopak ini sembuh maka akan terjadi tarikan jaringan parut yang juga dapat berakibat trikiasis[9].     
                                                              Gambar 5. Blefaritis ulseratif

           
e.       Blefaritis angularis
Blefaritis angularis merupakan infeksi staphylococcus aureus pada tepi kelopak di sudut kelopak atau kantus. Blefaritis angularis yang mengenai sudut kelopak mata (kantus eksternus dan internus) sehingga dapat mengakibatkan gangguan pada fungsi puntum lakrimal. Biasanya bersifat rekuren[10].
Blefaritis angularis diobati dengan sulfa, tetrasiklin dan Sengsulfat. Penyulit pada pungtum lakrimal bagian medial sudut mata yang akan menyumbat duktus lakrimal.
                                                             Gambar 6. Blefaritis angularis

f.       Meibomianitis
Merupakan infeksi pada kelenjar Meibom yang akan mengakibatkan tanda peradangan lokal pada kelenjar tersebut. Meibomianitis menahun perlu pengobatan kompres hangat, penekanan dan pengeluaran nanah dari dalam berulang kali disertai antibiotik lokal. 
  Gambar 7. Meibomianitis


5.      Patofisiologi
Patofisiologi blepharitis biasanya terjadi kolonisasi bakteri pada mata. Hal ini mengakibatkan invasi mikrobakteri secara langsung pada jaringan ,kerusakan sistem imun atau kerusakan yang disebabkan oleh produksi toksin bakteri , sisa buangan dan enzim. Kolonisasi dari tepi kelopak mata dapat ditingkatkan dengan adanya dermatitis seboroik dan kelainan fungsi kelenjar meibom.
WOC Blefaritis..
Invasi
BAKTERI
JAMUR
VIRUS

Produksi minyak dimata berlebihan

Pelepasan mediator kimia
(histamin, kinin, prostaglandin, . . .)
Reaksi alergi
Kealainan kelenjar meibom
Mata menjadi sangat lembab
Pandangan kabur karna minyak berlebihan dlm mata
Dermatitis seboreik
inflamasi
Bahan kimia, debu, asap, bahan kosmetik dianggap asing
Peningkatan permeabilitas kapiler
Merangsang saraf nyeri
nyeri
Mata tampak berair
Shift cairan dari intra vaskuler  ke interstisial
Edema
Vaso dilatasi PD
Hiperemia
Tampak kemerahan, panas
Pus
Mata , Bulu mata lengket
Benda asing dimakan (fagositosis sel radang)
Mata sulit dibuka
Krusta /keropeng
Antigen dan antibodi
gatal
Gangguan  penglihatan
Migrasi sel darah putih
Pus, minyak mengering Saat tidur
Resiko injuri
Kurang
pengetahuan
Gangguan rasa nyaman nyeri

Mengucek mata
Sel darah putih mati, sel-sel kulit mati
Skuama/ sisik
ansietas
Resti  infeksi
Resiko injuri
 














































6.      Manifestasi Klinis
a.      Gejala
a)      Blefaritis menyebabkan kemerahan, bisa juga terbentuk sisik dan keropeng atau luka terbuka yang dangkal pada kelopak mata.
b)      Blefaritis bisa menyebabkan penderita merasa ada sesuatu di matanya. Mata dan kelopak mata terasa gatal, panas, dan menjadi merah. Bisa terjadi pembengkakan kelopak mata dan beberapa helai bulu mata rontok.
c)      Mata menjadi merah, berair dan peka terhadap cahaya terang. Bisa juga terbentuk keropeng yang melekat erat pada tepi kelopak mata; jika keropeng dilepaskan, bisa terjadi pendarahan.
d)     Selama tidur, sekresi mata mengering sehingga ketika bangun kelopak mata sukar dibuka



b.      Tanda
a)      Skuama[11] pada kelopak mata
b)      Kelopak mata merah ,bengkak, sakit, dan gatal.
c)      Eksudat lengket bergantungan pada bulu mata
d)     Mata  kotor dan rasa panas
e)      Eksudat berminyak .
f)       Mata sulit dibuka
g)      Jumlah bulu mata berkurang

7.      Komplikasi
Komplikasi yang berat karena blefaritis jarang terjadi. Komplikasi yang paling sering terjadi pada pasien yang menggunakan lensa kontak (Mungkin sebaiknya disarankan untuk sementara waktu menggunakan alat bantu lain seperti kaca mata sampai gejala blefaritis hilang). Komplikasi yang dapat muncul antara lain :
a.       Syndrome mata kering
Komplikasi yang paling sering terjadi pada blefaritis. Syndrome mata kering (keratokonjungtivis sica) adalah kondisi dimana mata pasien tidak bisa memproduksi air mata yang cukup, atau air mata menguap terlalu cepat. Ini bisa menyebabkan mata kekurangan air dan menjadi meradang.
Syndrome ini dapat terjadi karena dipengaruhi gejala blefaritis, dermatitisseboroik, dan dermatitis rosea, namun dapat juga disebabkan karena kualitas air mata yang kurang baik.Gejalanya ditandai dengan nyeri atau kering, sekitar mata, dan ada yang mengganjal di dalam mata dengan penglihatan yang buram. Semua gejala tersebut dapat dihilangkan dengan menggunakan obat tetes mata yang mengandung cairan yang dibuat untuk bisa menggantikan air mata.

b.      Konjungtivitis
Peradangan pada mata, ini terjadi ketika ada bakteri didalam kelopak mata. Kondisi ini menyebabkan efek buruk pada penglihatan. Pada banyak kasus konjungtivitis akan hilang setelah dua atau tiga minggu tanpa perlu pengobatan. Antibiotik berupa obat tetes mata disarankan untuk mengurangi gejala, atau untuk menghindari infeksi berulang.

c.       Trikiasis
Trikiasis merupakan kondisi dimana silia bulu mata melengkung ke arah bola mata. Trikiasis biasanya merupakan akibat adanya inflamasi atau sikatrik pada palpebra setelah operasi palpebra, trauma, kalazion atau blefaritis berat. Trikiasis dapat terjadi pada semua usia, namun lebih sering terjadi pada orang dewasa.
Jika hanya sedikit bulu mata yang tumbuh melengkung kedalam bola mata maka dapat ditangani dengan epilasi mekanik (pencabutan bulu mata). Bulu mata akan tumbuh kembali sekitar 3-4 minggu sehingga harus dicabut kembali.
penanganan permanen dapat dilakukan dengan merusak folikel bulu mata yaitu dengan eksisi langsung, elektrolisis atau radiosurgery.



d.      Bintil pada kelopak mata
Bintil pada kelopak mata ini merupakan benjolan yang nyeri yang terbentuk di luar kelopak mata. Ini disebabkan karena infeksi bakteri pada folikel bulu mata ( yang berlokasi di dasar bulumata). Pada kasus ringan bisa disembuhkan dengan kompres hangat pada daerah sekitar bintil. Namun, pada kasus yang berat perlu diberikan antibiotik salep dan tablet

8.      Penatalaksanaan
a.       Bersihkan dengan garam fisiologis hangat kemudian diberikan antibiotik yang sesuai. Pada blepharitis sering diperlukan kompres hangat. Pada infeksi ringan diberi antibiotik lokal sekali sehari pada kelopak dan kompres basah dengan asam borat. Bila terjadi blepharitis menahun, maka dilakukan penekanan manual kelenjar Meibom untuk mengeluarkan nanah.
b.      Pada blepharitis seroboik, kelopak harus dibersihkan dengan kapas lidi hangat, soda bikarbonat, atau nitras argentin 1%. Dapat digunakan salepsulfonamid untuk aksi ketoritiknya. Kompres hangat selam 5-10 menit, tekan kelenjar Meibom dan bersihkan dengan sampo bayi. Diberikan juga antibiotik lokal, prednisolon 0,125% dua kali sehari, dan antibiotik sistemik, tetrasiklin 2 x 250 mg atau sesuai dengan hasil kultur.
c.       Pengobatan pada infeksi virus bersifat simtomatik, antibiotik diberikan bila terdapat infeksi sekunder.
d.      Bila disebabkan jamur, infeksi superfisial diobati dengan griseofulvin 0,5-1 gram sehari dengan dosis tunggal atau dibagi dan diteruskan sampai 1-2 minggu setelah gejala menurun. Bila disebabkan kandida diberikan nistatin topikal 100.000 unit per gram.
e.       Pada infeksi jamur sistemik, diobati dengan sulfonamid, penisilin, atau antibiotikspektrum luas. Amfoterisin B diberikan untuk histoplasmosis, sporotrikosis, aspergilosis, dan lainnya, dimulai dengan 0,05-0,1 mg/kg Bb secara intravena lambat selama 6-8 jam dalam dekstrosa 5%. Dosis dinaikkan sampai 1 mg/kg BB, namun total tidak boleh dari 2 gram. Pengobatan diberikan setiap hari selama 2-3 minggu atau sampai gejala berkurang. Hati-hati karena toksik terhadap ginjal.
f.       Pada blepharitis akibat alergi dapat diberikan steroid lokal atau sistemik, namun harus dicegah pemakaian lama. Untuk mengurangi gatal, berikan antihistamin.

B.       Proses Keperawatan
1.         Pengkajian
a.    Riwayat Kesehatan , lingkungan, pekerjaan, gaya hidup, pemakaian obat dan kosmetik
b.    Data Subjektif 
1)        Orang dengan radang mata dapat mengeluh gatal-gatal
2)        Nyeri (ringan sampai berat) pada kelopak mata
3)        Lakrimasi (mata selalu berair)
4)        Gelisah akibat gatal-gatal/nyeri
5)        Penderita merasa ada sesuatu di matanya
6)        Malu dan kurang percaya diri akibat efek dari penyakitnya (bulu matarotok dan tidak terganti)
7)        Pandangan mata kabur dan ketajaman penglihatan menurun

c.    Data objektif 
1)        Kelopak mata kemerahan
2)        Edema kelopak mata
3)        Adanya pengeluaran pus
4)        Kelopak mata dapat menjadi rapat ketika tidur 
5)        Berkurangnya jumlah bulu mata (rontok)

d.   Pemeriksaan penunjang
Dilakukan pemeriksaan mikrobiologi untuk mengetahui penyebabnya.
1)        Uji laboratorium
2)        Radiolografi
-       Fluorescein angiografi
-       Computed tornografi (CT Scan)
-       Pemeriksaan dengan slit lamp

2.         Diagnosa keperawatan
a.    Nyeri berhubungan dengan  inflamasi akibat infeksi bakteri.
b.    Ansietas berhubungan dengan gangguan penglihatan, kerusakan kelopak mata.
c.    Resiko tinggi injury/cedera berhubungan dengan defisif pengetahuan, pandangan kabur atau penurunan ketajaman mata.
d.   Defisit  pengetahuan berhubungan dengan  kurang informasi tentang penyakit.
e.    Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan  prosedur invasif.
f.     Gangguan sensori : penglihatan berhubungan dengan gangguan penerimaan status organ indera.
3.         Intervensi Keperawatan
a.    Nyeri berhubungan dengan  inflamasi akibat infeksi bakteri
a)        Tujuan  : Nyeri hilang atau berkurang
b)        Kriteria Hasil  :
1)        Klien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian pengontrolan nyeri
2)        Klien mengatakan nyeri berkurang/ hilang
3)        Ekspresi  wajah rileks
c)        Intervensi         :
1)        Kaji skala nyeri.
Rasional : mengetahui tingkat nyeri.
2)        Jelaskan penyebab nyeri pada pasien
Rasional : penambah pengetahuan pasien
3)        Kompres daerah mata dengan air hangat.
Rasional : kompres air hangat dapat mengurangi rasa nyeri
4)        Anjurkan istirahat di tempat tidur dalam ruangan yang tenang.
Rasional : memberi kenyamanan kepada klien.
5)        Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan.
Rasional : mengalihkan perhatian terhadap nyeri.
6)        Kolaborasi dalam pemberian antibiotic dan analgesic.
Rasional : menghilangkan nyeri dan membantu penyembuhan.

b.    Ansietas berhubungan dengan gangguan penglihatan, kerusakan kelopak mata.
a)        Tujuan   : Cemas hilang atau berkurang
b)        Kriteria hasil   :
1)      Klien tampak rileks dan melaporkan ansietas menurun sampai tingkat dapat diatasi.
2)      Klien menunjukkan keterampilan menyelesaikan masalah
3)      Klien menggunakan sumber secara efektif
c)        Intervensi  :
1)        Kaji penyebab ansietas.
Rasional : mengetahui penyebab ansietas.
2)        Kaji tingkat ansietas.
Rasional : mengetahui tingkat ansietas.
3)        Jelaskan diagnosis & rencana penanganan.
Rasional  : mengurangi ansietas.
4)        Berikan informasi seputar blepharitis.
Rasional : menambah pengetahuan tentang penyakit blepharitis.
5)        Dorong pasien untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan.
Rasional : mengurangi tingkat ansietas

c.    Resiko tinggi injuri berhubungan dengan defisit pengetahuan
a)        Tujuan : resiko injuri teratasi
b)        Kriteria hasil :
1)        Klien mampu menjaga dan merawat matanya
2)        Klien mampu melihat dengan jelas
c)        Intervensi :
1)        Bantu klien dalam melakukan aktivitas.
Rasional : mencegah injuri.
2)        Beri pencahayaan yang cukup.
Rasional : mempermudah klien melakukan aktivitas.
3)        Jauhkan penyebab terjadinya injuri.
Rasional : menjaga keselamatan klien.
4)        Berikan informasi seputar blepharitis.
Rasional : menambah pengetahuan tentang penyakit blepharitis.
5)        Dorong pasien untuk mengakui dan mengekspresikan perasaan.
Rasional : mengurangi tingkat ansietas

d.   Defisit  pengetahuan berhubungan dengan  kurang informasi tentang penyakit
a)        Tujuan : klien mengetahui tentang penyakit yang dialaminya
b)        Kriteria hasil :
1)        Klien mengatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan.
2)        Mengidentifikasi hubungan antar gejala atau tanda dengan proses penyakit
3)        Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan.
c)        Intervensi :
1)        Diskusikan perlunya pengetahuan tentang penyakit.
Rasional : menambah pengetahuan penyakit blepharitis.
2)        Tunjukkan tehnik yang benar pemberian obat tetes mata.
Rasional : klien menjadi tahu cara pemberian obat tetes mata dengan benar.
3)        Izinkan pasien mengulang tindakan.
Rasional : menambah kemahiran klien.
4)        Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata.
Rasional : membantu mempercepat kesembuhan.
5)        Dorong  pasien membuat perubahan yang perlu untuk pola hidup.
Rasional : mencegah berulangnya penyakit blepharitis.
6)        Beri informasi seputar penyakit blepharitis.
Rasional : meningkatkan pengetahuan klien.

e.    Resiko tinggi infeksi b.d prosedur invasif.
a)        Tujuan :  meningkatkan penyembuhan luka tepat waktu, bebas drainase purulen,      eritema, dan demam.
b)        Kriteria hasil :  mengidentifikasi intervensi untuk mencegah atau   menurunkan risiko infeksi.
c)        Intervensi :
1)        Observasi tanda terjadinya infeksi
Rasional : infeksi mata terjadi 2 – 3 hari setelah proseddur dan memerlukan upaya intervensi.
2)        Diskusikan pentingnya mencuci tangan sebelum menyentuh/ mengobati mata.
Rasional : menurunkan jumlah bakteri pada tangan.
3)        Gunakan teknik yang tepat untuk membersihkan mata dari dalam keluar dengan tisu basah untuk tiap usapan.
Rasional : teknik aseptik menurunkan resiko penyebab bakteri.

4)        Tekankan pentingnya tidak menyentuh/ menggaruk mata yang dioperasi.
Rasional : mencegah kontaminasi dan kerusakan sisi operasi
5)        Kolaborasi dalam pemberian obat steroid sesuai indikasi.
Rasional : digunakan untuk menurunkan inflamasi.

f.     Gangguan Sensori : penglihatan berhubungan dengan  gangguan penerimaan status organ indera.
a)        Tujuan : Meningkatkan ketajaman penglihatan dalam batas situasi individu.
b)        Kriteria Hasil :
1)      Mengenal gangguan sensori dan berkompensasi terhadap perubahan.
2)      Mengidentifikasi/ memperbaiki potensial bahaya dalam lingkungan.
c)        Intervensi :
1)        Tentukan ketajaman penglihatan, catat apakah satu atau kedua mata terlibat.
Rasional : kebutuhan individu dan pilihan intervensi bervariasi sebab kehilangan penglihatan terjadi lambat dan progresif.
2)        Observasi tanda-tanda dan gejala-gejala disorientasi.
Rasional : terbangun dalam lingkungan yang tak dikenal dan mengalami keterbatasan penglihatan.
3)        Orientasikan pasien terhadap lingkungan, orang lain diareanya.
Rasional : memberikan peningkatan kenyamanan dan kekeluargaan.
4)        Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur dan iritasi mata, dimana dapat terjadi bila menggunakan tetes mata.
Rasional : gangguan penglihatan/ iritasi dapat berakhir 1-2 jam setelah tetesan mata secara bertahap menurun dengan penggunaan.
5)        Letakkan barang yang dibutuhkan/posisi bel pemanggil dalam jangkauan pada sisi yang dekat.
Rasional : memungkinkan pasien melihat objek lebih mudah dan memudahkan panggilan untuk pertolongan bila diperlukan.



BAB III
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Blefaritis adalah radang  pada kelopak mata. Radang yang sering mengenai bagian kelopak mata dan tepi kelopak mata. Pada beberapa kasus disertai tukak atau tidak pada tepi kelopak mata. bisanya melibatkan folikel dan kelenjar rambut. Blefaritis ditandai dengan pembentukan minyak berlebihan di dalam kelenjar di dekat kelopak mata yang merupakan lingkungan yang disukai oleh bakteri yang dalam keadaan normal ditemukan di kulit.
Biasanya orang sering menganggap kelelahan pada mata, atau mata yang berpasir, dan terasa silau dan tidak nyaman bila terkena sinar matahari atau pada saat berada pada lingkungan yang berasap, memberikan gambaran berupa mata merah, dan seperti ada benda asing di dalam mata. Selain itu, blefaritis juga dapat mengganggu pencitraan diri pasien

B.       Saran
Dengan pembuatan makalah ini diharapkan mahasiswa lebih gampang mempelajari terapan ilmu keperawatan khususnya pada system persepsi sensori mengenai penyakit Blefaritis.
Dengan pembuatan makalah ini, diharapkan para pembaca akan lebih memahami mengenai penyakit pada mata khususnya penyakit Blefaritis. Sehingga diharapkan kita dapat lebih menjaga kebersihan diri kita khususnya mata, agar mata kita dapat terhindar dari penyakit mata







DAFTAR PUSTAKA
http://catatankecil-elita.blogspot.com/2011/10/trikiasis.html
Barbara C. Long. 1996. Perawatan Medikal Bedah 2. Padjajaran Bandung; Bandung.
Istiqomah, dkk. 2004. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Mata. EGC; Jakarta.Radjamin, Tamin. 1984. Ilmu Penyakit Mata. Airlangga University : Surabaya





[1] Vaksinia adalah cacar sapi, penyakit virus pada lembu yang dapat menular kepada manusia dan menimbulkan kekebalan terhadap cacar
[2] Superfisial adalah dangkal, berada atau dekat dengan dengan permukaan
[3] Krusta adalah keropeng, lapisan padat yang terjadi karena mengeringnya getaah radang
[4] Madarosis adalah hilangnya alis atau bulu mata
[5] Ulkus merupakan lesi yang terbentuk oleh kerusakan lokal dr seluruh epidermis dan sebagian atau seluruh korium dibawahnya
[6] Vaskularisasi merupakan proses menjadi berpembuluh
[7] Hordeolum adalah radang kelenjar palit pada kelopak mata
[8] Keratitis merupakan radang selaput bening mata
[9] Trikiasis adalah rambut yang tumbuh kedalam suatu liang, khususnya bulu mata yang melengkung kedalam
[10] Rekuren atau disebut juga berulang
[11] Skuama merupakan lapisan tanduk dari epidermis mati yang menumpuk pada kulit yang dapat berkembang sebagai akibat perubahan inflamasi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar